alexametrics

Upacara Pemakaman Rambu Solo

  • Peti jenazah dinaikkan ke atas Lakkian sebagai tempat persemayaman terakhir dalam upacara adat Rambu Solo? yang berlangsung di Desa Awwa Tiromanda, Bera, Kecamatan Makale Selatan, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Upacara ini merupakan ritual adat pemakaman dari masyarakat Toraja yang bertujuan mengantarkan arwah orang yang telah meninggal menuju alam roh yang disebut dengan Puya.
  • Iring-iringan keluarga, kerabat, dan warga membawakan berbagai persembahan bagi keluarga almarhumah yang ditinggalkan.
  • Cucu termuda dari almarhumah Nene' Bertha Kala' Lembang membawa pigura foto didepan jenazah saat diarak keliling kampung dalam ritual Ma'pasonglo.
  • Warga menggunakan lesung bambu berusia puluhan tahun untuk membuat alunan musik mengiringi tari Makkatia?.
  • Sejumlah warga membawakan tarian dalam ritual Makkatia? di pelataran Tongkonan untuk mengingatkan warga lainnya akan kemurahan hati dan kesetiaan almarhumah semasa hidupnya.
  • Ratusan warga mengarak jenazah berkeliling kampung dalam ritual Ma'pasonglo.
  • Salah satu Tedong Bonga (kerbau belang) seharga Rp555 juta yang akan disembelih dalam upacara ini. Kerbau ini memiliki ciri unik yang melambungkan harganya, selain kulitnya yang bermotif belang, kelopak matanya juga berwarna putih.
  • Warga menyaksikan atraksi Silaga Tedong (adu kerbau) yang dilaksanakan beberapa hari sebelum prosesi penyembelihan.

Tana Toraja tak hanya memiliki keindahan panorama alam, keunikan rumah adat Tongkonan, dan motif tenunan khasnya, namun keragaman budaya juga membuat kawasan di Sulawesi Selatan ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan, seperti upacara adat pemakaman Rambu Solo’. Upacara ini merupakan ritual adat pemakaman dari masyarakat Toraja yang bertujuan mengantarkan arwah orang yang telah meninggal menuju alam roh, yaitu alam keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan abadi yang disebut dengan Puya. Upacara pemakaman ini kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya upacara yang mencapai ratusan juta hingga milyaran rupiah ini.

Puncak dari Rambu Solo’ disebut dengan upacara Rante. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual mulai dari proses pembungkusan jenazah (ma’tudan mebalun), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan (ma’popengkalao alang), dan ritual ma'pasonglo yang merupakan ritual mengarak jenazah dari Tongkonan menuju ke Lakkian (tempat persemayaman terakhir). Selain itu juga terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, seperti adu kerbau (mappasilaga tedong) dan pementasan tari ma'badong. Upacara yang sering juga disebut upacara penyempurna kematian ini biasanya dilaksanakan pada siang hari saat matahari mulai condong kearah barat dan berlangsung 2-3 hari hingga dua minggu bagi kalangan bangsawan.

Kerbau-kerbau yang akan dikorbankan dalam upacara ini, diadu terlebih dahulu sebelum disembelih. Menariknya lagi, kerbau disembelih dengan cara yang unik dan merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja yaitu menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan. Suku Toraja percaya bahwa setiap arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya menuju keabadian dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau.

Bekal perjalanan menuju keabadian bagi orang Toraja tak hanya pada hewan korban yang disembelih saat upacara saja, tapi juga berupa berupa pakaian, perhiasan, hingga uang yang dihantarkan bersama jasad orang yang meninggal ke tempat pekuburan. Kepada leluhur yang telah meninggal jauh sebelumnya, dapat pula dititipkan persembahan korban sembelihan melalui arwah orang yang sedang diupacarakan. Keyakinan yang mereka percaya sejak zaman leluhur ini menggambarkan kesetiaan dan kecintaan suku Toraja kepada para leluhur baik dalam hidup dan matinya.

()
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak