alexametrics

Pesona Klasik Tenun Lurik

  • Sepeda ontel menjadi transportasi para penenun dari rumah menuju tempat produksi kain lurik.
  • Salah satu motif kain Lurik, rumah produksi Lurik Kurnia memiliki variasi 500 motif.
  • Ketelitian dan kesabaran menjadi tuntutan untuk menghasilkan kain Lurik yang berkualitas, Seorang penenun mampu menyelesaikan 100 meter kain lurik berkualitas tinggi selama kurang lebih satu bulan.
  • Saat ini, tersisa 25 penenun yang termasuk dalam generasi pertama penenun Lurik Kurnia.
  • Pekerja mengemas kain lurik siap jual di butik Lurik Kurnia, tiap meternya dibanderol dengan harga Rp 35 ribu.
  • Pekerja mencatat keluar masuk benang di bagian cadongan agar tidak tumpang tindih saat pemintalan.
  • Rumah produksi Lurik Kurnia tetap menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) dalam menghasilkan kain tenun lurik.
  • Menjemur benang seusai diwarnai, jika cuaca bagus hanya perlu sehari untuk menunggu kering.
  • Pekerja menyusun benang di bagian pemotifan, ratusan gulungan benang aneka warna disusun membentuk motif lurik yang dominan garis lurus.
  • Pekerja perempuan memintal benang setelah selesai diwarnai, di bagian pemintalan benang dirapikan agar tidak kusut saat dibentuk motif.
  • Usia penenun yang kian tua menjadi tantangan dalam laju produksi kain lurik, minimnya regenerasi penenun beresiko terhadap produksi lurik yang kian redup.

Di awal tahun 1960an, tenun lurik asal Krapyak, Yogyakarta mendapat tempat di hati masyarakat pengagum kain tradisional setelah batik. Salah satunya adalah karya perajin rumah produksi Kurnia Lurik di Jalan Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon Bantul, Yogyakarta. Produksi kain lurik yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) ini sudah beroperasi sejak 1962 dan menjadi satu-satunya yang bertahan setelah 4 rumah produksi lainnya kini hanya tinggal nama saja. Masuknya teknologi modern dari Tiongkok serta minimnya regenerasi yang menekuni seni tenun ini, kian menjadi tantangan yang harus dihadapi agar pesona kain tradisional lurik tidak meredup. Mau tidak mau, generasi ketiga Lurik Kurnia mengimbangi resiko ini dengan berinovasi, melek teknologi dan menggandeng desainer agar mesin tenun peninggalan leluhurnya tetap berputar. Tak tanggung-tanggung sekitar 500 motif koleksi Lurik Kurnia diperbarui agar tidak ketinggalan jaman. Proses yang sangat panjang untuk menghasilkan 100 meter kain lurik dengan harga Rp 35 ribu per meternya ini dikerjakan dalam kurun waktu satu bulan. Proses pembuatannya dimulai dari pemilihan benang mentah yang dikirim dari Klaten, pewarnaan atau wenter, penjemuran benang selama satu hari, pemintalan, pembuatan motif hingga akhirnya ditenun secara manual. Lewat sentuhan unik, halus dan telaten dari tangan-tangan perajin sepuh dalam menggarap dan menghasilkan kain tenun dengan kualitas terbaik rasanya Yogyakarta masih mampu membidani pesona klasik tenun lurik. FOTO DAN TEKS : KORAN SINDO/DJULI PAMUNGKAS

(bon)
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak