alexametrics

Arak-arakan Tradisi Ngarot Sebelum Tanam Padi di Indramayu

  • Rangkaian bunga dipasang sebagai mahkota. Konon, jika bunga tersebut layu, pemakainya bukanlah gadis lagi.
  • Ribuan warga antusias menyaksikan arak-arakan Ngarot berkeliling desa dan berakhir di Balai Desa.
  • Orang tua mengantarkan anaknya menuju lokasi arak-arakan.
  • Remaja puteri berfoto dekat mesin pembajak sawah sebelum arak-arakan dimulai.
  • Sesi foto bersama keluarga di beranda rumah sebelum berangkat menuju lokasi Ngarot.
  • Rangkaian bunga dipasang sebagai mahkota. Konon, jika bunga tersebut layu, pemakainya bukanlah gadis lagi.
  • Gadis belia peserta Ngarot berkumpul di Balai Desa seusai mengikuti arak-arakan keliling desa di Desa Lelea, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (27/12/2017). Tradisi ini digelar setiap tahun jelang musim tanam padi berharap berkah dan rezeki dari Sang Pencipta.

Matahari belum tampak sempurna saat belasan gadis belia berkumpul di rumah salah satu warga di Desa Lelea, Indramayu, Jawa Barat, akhir tahun lalu. Satu persatu antre untuk dirias wajah kemudian mengenakan busana tradisional serta hiasan rangkaian bunga di kepala. Persiapan tersebut dilakukan oleh seluruh gadis belia dan remaja laki-laki di desa tersebut sebelum diarak keliling dalam tradisi Ngarot.

Dimulai sejak abad 17 Masehi tepatnya sekitar tahun 1686, Ngarot terus digelar dan dilestarikan warga setempat. Sesuai dengan arti Ngarot menurut bahasa Sansekerta yakni bebas dari kutukan dewa, tradisi ini dilaksanakan jelang musim tanam padi sebagai wujud sukacita masyarakat atas berkah dan rezeki yang diberikan Sang Pencipta.

Puncak acara adalah saat lebih dari seratus gadis dan remaja laki-laki yang belum menikah mengikuti arak-arakan mengelilingi desa. Ratusan warga baik warga setempat ataupun dari wilayah lain pun memadati tepian jalan antusias menyaksikan tradisi tahunan ini.

(ary)
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak