alexametrics

Ulos Tradisional di Ujung Tanduk

  • Kayu Jabi-jabi menjadi salah satu bahan pewarna alami benang ulos
  • Warga menunjukkan buah itom yang digunakan sebagai bahan baku pewarna hitam bagi benang ulos.
  • Proses pewarnaan benang ulos tradisional
  • Kendaraan melintas di kawasan Kabupaten Muara, Danau . Bahan baku pewarna kain ulos alami yang dulu banyak tumbuh di pinggiran danau ini kini makin sulit ditemui.
  • Perajin berusia lanjut tengah menenun ulos menggunakan mesin pintal tradisional.
  • Warga menunjukkan kain ulos tradisional
  • Potret perajin ulos tradisional
  • Warga mengenakan kain ulos saat menghadiri satu kegiatan adat di Tapanuli Utara. Kain ulos tradisional memiliki nilai jual jauh lebih tinggi daripada kain ulos yang dibuat dengan mesin.
  • Perajin tengah menenun ulos berbahan benang dengan pewarna alami menggunakan mesin pintal tradisional di Desa Huta Nagodang, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Makin sedikitnya bahan untuk pewarna benang membuat banyak perajin mulai beralih ke bahan pewarna kimia.

Sejumlah petenun kain tradisional ulos di kawasan Danau Toba, persisnya di Desa Huta Nagodang, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara, Sumatera Utara masih mempertahankan pewarna alami ramah lingkungan untuk benang kain. Hal tersebut dilakukan karena pewarna kimia dapat mengakibatkan air danau tercemar karena sisa pewarnaan biasanya langsung dibuang perajin ke danau tanpa pengolahan.

Perubahan zaman yang sangat cepat menyebabkan jarang sekali perajin ulos menggunakan pewarna alami. Selain alasan kepraktisan, saat ini juga jarang ditemui benang dengan pewarna alami akibat makin sulitnya bahan baku pewarna. Sejumlah bahan baku tersebut antara lain, untuk bahan pewarna hitam dan merah, berasal dari tanaman itom dan salaon (indigo) yang menghasilkan warna-warna dominan dari kain tenun ikat Batak, yakni merah, hitam, dan putih. Tumbuhan tersebut dulu banyak ditemukan di sepanjang pinggiran Danau Toba. Namun, sekarang sangat sulit untuk didapatkan lagi sehingga perajin beralih menggunakan benang dengan bahan pewarna kimia.

Akibatnya banyak perajin mulai beralih ke pewarna kimia sejak sepuluh tahun lalu. Bahkan, ada sejumlah kain ulos dengan corak hasil sablon. Selain itu, mereka juga tidak lagi menggunakan alat pintal manual seperti pembuatan ulos asli sebelumnya. Alasannya karena harga ulos yang menggunakan bahan alami relatif mahal dan kurang laku di pasaran serta kalah bersaing dengan kain ulos hasil tenunan mesin. Padahal potensi pembuatan tenun ulos dengan pewarna alami bisa jadi salah satu daya tarik wisata.

Pembuatan satu lembar kain ulos dengan cara tradisional biasanya memakan waktu sebulan. Adapun jika dengan mesin, ulos bisa selesai dalam hitungan jam. Namun, harga kain ulos dengan pewarna alami bisa mencapai Rp5 juta per lembar. Kain ulos dengan pewarna kimia hanya dihargai antara Rp50 ribu-Rp300 ribu setiap lembar. Diperlukan perhatian berbagai pihak seperti pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat untuk menyelamatkan aset budaya Indonesia yang tengah berada di ujung kepunahan dan dikhawatirkan hanya menjadi cerita saja di masa depan.

(ary)
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak