alexametrics

Candi Bahal Jejak Sriwijaya di Tapanuli Selatan

  • Areal Candi Bahal yang merupakan bagian dari kompleks candi Padanglawas
  • Ukiran yang diyakini sebagai tokoh yaksa tengah menari terlihat di tembok sisi luar candi.
  • Bagian dalam atap kubah Candi Bahal 1. Candi ini terbuat dari bata merah dan diyakini dibangun sekitar abad ke-11 Masehi.
  • Areal Candi Bahal yang merupakan bagian dari kompleks candi Padanglawas
  • Arca makara (makhluk dalam mitologi Hindu) di depan gerbang utama Candi Bahal 1 yang juga disebut Biaro.
  • Candi ini terbuat dari bata merah dan diyakini dibangun sekitar abad ke-11 Masehi.
  • Warga menggunakan Betor (becak bermotor) di sekitar kompleks candi. Sulitnya transportasi menuju candi membuat lokasi ini masih jarang dikunjungi wisatawan.
  • Sulitnya transportasi menuju candi membuat lokasi ini masih jarang dikunjungi wisatawan.
  • Wisatawan (kanan) duduk menikmati suasana di areal Candi Bahal, Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kompleks candi yang kerap disebut juga sebagai candi Portibi ini terdiri dari tiga buah candi yakni Bahal 1, 2 dan 3 yang masing-masing terpisah sekitar 500 meter.

Candi Bahal di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, merupakan bagian dari kompleks situs candi yang tersebar seluas 1.500 km? di kawasan Padanglawas, Tapanuli Selatan.Dari sekian banyak candi di areal Padanglawas hanya Candi Bahal yang sudah selesai direnovasi. Terletak sekitar 450 kilometer dari Kota Medan, diperlukan waktu delapan belas jam perjalanan darat untuk mencapai candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke-11 Masehi.

Raja Tamil Hindu Siwa di India Selatan, Rajendra Cola diyakini sebagai pendiri candi ini. Para ahli di sejumlah literatur juga menyebut candi ini berkaitan dengan keberadaan Kerajaan Pannai sebagai daerah yang ditaklukkan oleh Kerajaan Sriwijaya.

Meski merupakan kawasan wisata sejarah, tidak terlihat angkutan kota untuk wisatawan yang ingin berkunjung ke lokasi candi dari bandara terdekat, yakni Bandara Aek Godang, Tapanuli Selatan. Wisatawan harus menyewa mobil sekitar Rp300 ribu sekali perjalanan. Mahalnya transportasi membuat bangunan sejarah ini jarang dikunjungi wisatawan. Perlu tindakan atau solusi nyata dari instansi terkait agar Candi Bahal dapat diakses oleh masyarakat luas.

(ary)
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak