Mengunjungi Perkampungan Megalitikum di Kaki Gunung Inerie NTT

  • Wisatawan mengunjungi Kampung Adat Bena yang merupakan perkampungan megalitikum yang berada di kaki Gunung Inerie di Desa Tiwu Riwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, NTT.
  • Seorang warga melihat wisatawan dari atas rumah panggung dan menawarkan cinderamata berupa kain tenun khas Flores kepada wisatawan yang berkunjung ke Kampung Bena.
  • Tumpukan bebatuan yang merupakan bagian dari tempat peryaan adat. Konon, kampung adat ini sudah ada sejak 1.200 tahun silam.
  • Susunan rahang dan tanduk kerbau digantung di depan rumah panggung setelah ritual adat.
  • Susunan bebatuan yang berada di perkampungan adat ini sudah ada sejak 1.200 tahun silam.
  • Warga mengerjakan pembuatan kain tenun tradisional yang dijual sebagai cinderamata kepada wisatawan yang berkunjung ke desa ini.
  • Deretan rumah adat berbentuk panggung terbuat dari kayu dan masih terjaga kelestariannya.

Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat kaya akan destinasi wisata dan budaya. Salah satunya adalah Kampung Bena, desa adat tertua di Flores. Kampung Bena menjadi salah satu tujuan pariwisata andalan Flores yang berada di Desa Tiwu Riwu, Kecamatan Aimere, sekitar 19 km selatan Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT.

Kampung Adat Bena adalah perkampungan megalitikum yang terletak di kaki Gunung Inerie, sekitar 2.245 mdpl.  Kampung ini dihuni sebanyak 69 kepala keluarga. Rumah-rumah adat berbentuk panggung dan terbuat dari kayu. Kampung adat ini masih terjaga kelestariannya. Warganya mengandalkan hidup dari kunjungan wisatawan dengan membuat aneka kerajinan kain tenun, juga hasil perkebunan. Di setiap rumah adat, banyak tergantung rahang dan tanduk kerbau. Ada kebiasaan warga setempat untuk menggelar perayaan adat, misalnya ketika ada kematian dan lainnya. Kebiasaan mereka menyembelih kerbau dan rahang serta tanduknya digantung di rumah-rumah warga. Konon, kampung adat ini sudah ada sejak 1.200 tahun silam.

“Kampung ini sudha ada sejak nenek moyang kami, beberapa abat lalu,” ujar Albertus, salah seorang warga penghuni Kampung Bena. Setiap hari, kampung ini selalu ramai didatangi pengunjung. Sayangnya, semenjak terjadi pandemi virus corona, kunjungan wisatawan menurun tajam. ”Dulu setiap hari ramai, tapi sejak pandemi corona jadi sepi,” ungkap Albertus, Jumat (31/7/2020).

Perkampungan Adat Bena dikelilingi dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Di sebelah timur terdapat bukit Wolo Ra, dan di sebelah barat ada Gunung Inerie, di selatan ada pantai selatan Pulau Flores. Sedangkan di sebelah Utara ada bukit Manulalu.

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid yang berkunjung ke kampung ini menyebut di Pulau Flores, banyak tempat wisata, baik situs sejarah maupun taman nasional yang popular di nusantara bahkan dunia. Di Kabupaten Ende ada Danau Kelimutu, ada Rumah Pengasingan Bung Karno. Di Kabupaten Ngada ada Kampung Adat Bena. Di Manggarai ada Wae Rebo, di Manggarai Barat ada Labuan Bajo, serta banyak lagi di Pulau Flores. Sayangnya, promosi pariwisata tentang Pulau Flores dinilai kurang maksimal. “Seharusnya dipromosikan seperti Bali,” ujar Jazilul Fawaid.

Potensi pariwisata yang besar di Pulau Flores, menurut Gus Jazil, perlu lebih dipromosikan dan dikembangkan agar mampu memberi kesejahteraan bagi masyarakat. KORAN SINDO/Abdul Rochim

(bon)
Abdul Rochim
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top