alexametrics

Suku Li dan Miao, Potret Peradaban Minoritas di Pulau Hainan China

  • Suku Li dan Miao dikenal dengan hasil tenunan yang sangat indah. Perempuan harus bisa menenun, karena pada zaman dulu kala hasil tenunan yang indah itu tidak dijual, tetapi dikhususkan ntuk raja-raja.
  • Suku Li dan Miao dikenal dengan hasil tenunan yang sangat indah. Perempuan harus bisa menenun, karena pada zaman dulu kala hasil tenunan yang indah itu tidak dijual, tetapi dikhususkan ntuk raja-raja.
  • Ibu-ibu berbaris didepan pintu gerbang rumah adat Suku Li dan Miao menyambut para tamu dengan nyanyian. Bagi tamu yang tidak bisa nyanyi bakal tidak mendapat izin masuk
  • Seorang gadis mengenakan busana tradisional suku Li dan Miao menyambut tamu
  • Suku Li dan Miao masih mempertahankan kerajinan anyaman rotan
  • Suku Li dan Miao mengajarkan cara memainkan alat musik tradisional pada tamu yang datang
  • Ibu-ibu Suku Li dan Miao selalu ramah saat kedatangan tamu. Mereka selalu menyambut dengan nyanyian dan senyuman.
  • Deretan guci penyimpan arak menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu yang berkunjung
  • Pengunjung melihat tengkorak banteng yang dipajang diarea perkampungan Suku Li dan Miao
  • Ibu-ibu Suku Li dan Miao membuat sebuah peta dengan tenun
  • Pegunjung bersamtai dihalaman rumah-rumah adat suku minoritas Li dan Miao
  • Gadis Suku Li dan Miao bersantai ditangga rumah mereka
  • Warga Suku Li dan Miao melintas didepan bangunan depan perkampungan Suku Li dan Miao
  • Suku Li dan Miao memiliki cara tersendiri dalam meniup seruling. Mereka memakai hidung untuk membunyikannya

Hainan, sebuah provinsi di bagian selatan dari Republik Rakyat Tiongkok memang cukup indah. Bukan hanya cerita sejarah dan pesona alam tropis yang indah, di pulau ini juga tersimpan khasanah tradisi suku minoritas yang hidup ribuan tahun silam. Dialah Suku Li dan Miao yang cukup mencuri perhatian wisatawan.

Suku Li dan Miao hidup di sebuah perkampungan, tepatnya di Desa Yetian, sekitar 50 Km dari Kota Sanya di Pulau Hainan, China. Hingga saat ini, warga lokal masih melestarikan budaya tradisional seperti kerajinan tangan brokat, keramik, tarian, ketrampilan menempah, kerajinan perah hingga anyaman rotan.

Suku minoritas inipun memiliki tradisi unik. Bagi pengunjung yang akan masuk kampung harus mengikuti aturan mereka. Untuk mengetuk pintu, para pengunjung harus menyanyi di depan ibu-ibu yang berbaris memblokade pintu gerbang. Setelah berhasil membuka blokade, pengunjung akan dijewer oleh gadis-gadis cantik. Jeweran itu sebagai simbol bahwa perempuan adalah penguasa rumah.

(rat)
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak