Secarik Catatan Kehadiran Kopi Liberika di Indonesia

  • Petani menjemur biji kopi Liberika di bawah terik matahari.
  • Petani memetik biji kopi yang sudah matang.
  • Petani memperlihatkan biji kopi Liberika yang baru di petik dari pohon.
  • Petani memperlihatkan biji kopi Liberika yang baru di petik dari pohon.
  • Petani mempersiapkan mesin penggilingan biji kopi.
  • Warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Barong Mulya menjemur biji kopi jenis Liberika sebelum memasuki tahap pengolahan di Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
  • Warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Barong Mulya menjemur biji kopi jenis Liberika sebelum memasuki tahap pengolahan di Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
  • Petani meracik kopi untuk dinikmati.
  • Kopi Liberika yang sempat bertengger harganya dikisaran Rp 2800 per kilogram beberapa tahun kebelakang kini mengalami peningkatan hingga Rp 5000 perkilonya.
  • Kopi Liberika yang sempat bertengger harganya dikisaran Rp 2800 per kilogram beberapa tahun kebelakang kini mengalami peningkatan hingga Rp 5000 perkilonya.
  • Petani dari Kelompok Tani Barong Mulya memperlihatkan biji kopi Liberika yang telah dijemur untuk proses pengeringan di Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (27/08/2020).

Warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Barong Mulya menjemur biji kopi jenis Liberika sebelum memasuki tahap pengolahan di Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (27/08/2020). Kopi jenis Liberica yang hampir punah tersebut kembali bergeliat di hati para petani kopi di kawasan tersebut. Kopi Liberica hadir ke dalam catatan perkembangan kopi di Indonesia. Dalam catatan arsip tua yang ditulis oleh kongsi dagang Belanda atau VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), komoditas kopi masuk ke Indonesia pada 1696. Pada tahun 1878, perkebunan kopi jenis Arabika di Hindia Belanda yang terletak di dataran rendah mengalami kegagalan akibat terserang penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix (HV). Untuk menanggulanginya, VOC mendatangkan spesies kopi Liberika (Coffea liberica) yang diperkirakan lebih tahan penyakit karat daun. Sampai beberapa tahun lamanya, kopi Liberika menggantikan kopi Arabika di perkebunan dataran rendah. Di pasar Eropa, kopi Liberika saat itu dihargai sama dengan Arabika. Namun, kopi Liberika mengalami hal yang sama, rusak terserang karat daun. Akhirnya pada 1907 Belanda mendatangkan spesies lain, yakni kopi Robusta. Kopi Liberika yang sempat bertengger harganya dikisaran Rp 2800 per kilogram beberapa tahun kebelakang kini mengalami peningkatan hingga Rp 5000 perkilonya.

(sra)
Top