Mencerdaskan Anak Bangsa di Tanah Papua

  • Seorang siswa melihat dari jendela proses belajar mengajar di SMP YPK Betheel Idoor, Distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.
  • Siswa mengikuti proses belajar mengajar di SMP YPK Betheel Idoor yang juga dijakikan sekolah SMA di Distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.
  • Siswa mengikuti proses belajar mengajar di SMP YPK Betheel Idoor yang juga dijakikan sekolah SMA di Distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.
  • Nama saya Malfina Syahrir. Saya mengajar di salah satu daerah terpencil Papua Barat, tepatnya di Kampung Idoor, Distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni.

Nama saya Malfina Syahrir. Saya mengajar di salah satu daerah terpencil Papua Barat, tepatnya di Kampung Idoor, Distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni. Lokasinya terletak di perbatasan Kabupaten Teluk Bintuni dengan Kabupaten Wondama.

Perjalanan dari kota Bintuni ke Idoor memakan waktu kurang lebih 8 jam lewat darat. Jika perjananan laut ditempuh sekitar kurang lebih 5 jam, dengan masing-masing risiko keselamatan yang berbeda-beda.

Saya mengajar di SMP YPK Betheel Idoor, satu-satunya sekolah yayasan Kristen yang ada di kampung tersebut. Sekolah ini memiliki akreditas C dan di dalam sekolah tersebut terdapat SMA YPK Bethel Idoor. Jadi bisa disebut SMA numpang belajar di bangunan SMP, dengan segala keterbatasan, baik sarana maupun prasarana.

Di daerah ini, bahan makanan harus distock dari kota. Mandi harus angkat air terlebih dahulu. Listrik pun kadang tidak normal, dan lain sebagainya. Keterbatasan guru juga membuat saya merasa kesulitan mengatur jadwal mengajar.

Saya di kontrak mengajar di SMP, tetapi karena di SMA tidak ada guru jadi saya membantu mengajar di SMA. Singkatnya, pada pagi hari saya masuk mengajar SMA kelas X dan kelas XI. Karena ruangan yang terbatas dan guru yang terbatas, saya menggabungkan dua kelas ini dalam satu ruangan.

Di sela-sela saya mengajar, ada satu siswa SMP yang dari jendela melihat ke dalam. Saya lupa namanya. Saya bertanya kepadanya,"He, ko bikin apa di jendela situ ?". Siswa itu menjawab, "Tarappa ibu, sa cuma lihat-lihat saja tarada yang mengajar kitorang". Saya jawab lagi, "Ambil buku sudah di kantor baru belajar sendiri, jangan di situ." Siswa itu kembali berkata, "Bagaimana kalau kitong gabung di SMA juga ibu, biar ada guru?".

Setelah percakapan itu saya ingin menangis. Bagaimana mungkin semangat mereka begitu besar untuk belajar tetapi tidak bisa terpenuhi dengan baik karena keterbatasan pendidik. Banyak pendidik yang tidak siap untuk ditugaskan di tempat ini, karena lokasi yang sangat jauh dari kota.

Setelah sekolah diliburkan cukup lama karena pandemi Covid-19, dengan tetap mengikuti protokol kesehatan saya kembali menjalankan tugas dengan penuh semangat. Di sini banyak manusia hebat. Manusia dengan pakaian kusutnya namun punya tekad dan tanggung jawab yang besar terhadap anak anak bangsa.

Nama : Malfina Syahrir, S.Pd
Alamat : Distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat

(rat)
Top