alexametrics

Kisah Petani Karet

  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.
  • Menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya.

Sugiyem, menyadap karet sudah mejadi bagian hidup ibu dari dua anak ini. Pisau sadap, mangkuk, dan lateks sangat akrab dengan kesehariannya. Malam hari ditemani Kuwatno, ia menyusuri jalan gelap berdebu hingga beraspal menunju kebun yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya di Kampung Sidodadi Sembawa. Ritual sebelum menyadappun ia lakukan mulai dari mengganti baju, memasang head lamp, menyiapkan peralatan hingga menghidupkan obat nyamuk guna mengusir pasukan penyedot darah.
Di kepekaan malam satu demi satu pohon karet mulai disadap hingga Matahari mulai menampakan sinar diantara ratusan batang pohon yang sudah disadap, Usai menyadap perempuan yang telah berusia kepala empat ini mengelap keringan serta minum air putih untuk melepas lelah dan haus. Setelah menunggu sekitar 2-3 jam Sugiyem mulai mengumpulkan lateks cair yang terkumpul di mangkuk untuk dibawah dan ditimpang di Tempat Pengumpulan Hasil. Dengan upah Rp.50.250 perhari dan dan sejumlah fasilitas kesehatan, ibu empat anak ini memiliki kebun karet sendiri yang garap beserta suami hingga memiliki rumah dengan fasilitas lengkap serta kendaraan roda dua dan empat.

()
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak