Pulau Salat Rumah Masa Depan Orangutan

  • rangutan bernama Caesar berusia 25 tahun berada di atas pohon kawasan Pulau Badak Kecil, Pulau Salat, Kabupaten Pulau Pisang, Palankaraya, Kalimantan Tengah, jumat 930/4/2021). Caesar merupakan Orangutan tertua yang ada di Pulau salat. Pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020, kegiatan di Pulau Salat (vakum) dan dibatasi untuk meminimasilir terjadinya penularan, sejumlah teknisi Pulau Salat selalu menjaga protokol kesehatan yang ketat.
  • Media dan Staf serta BOSF dan Staf PT. SSMS menggunakan Speedboat menuju Pulau Salat.
  • Pengunjung mengabadikan foto Orangutan menggunakan ponsel di Pulau Badak Kecil.
  • petugas memberikan pakan pisang kepada sejumlah orangutan.
  • Pemeriksaan suhu tubuh pengunjung dan relawan BOSF saat memasuki Pulau Salat.
  • Petugas mengeluarkan pisang dari dalam gudang pakan untuk diberikan kepada orangutan.
  • Demaga utama (Demaga 1) pintu masuk ke Infrastruktur Pulau Salat (Camp Salad Island) yang didalamnya terdapat sejumlah infrastruktur pendukung merawat Orangutan.
  • Orangutan berbagi makanan dengan monyet.
  • Petugas melemparkan pisang di feeding atau lokasi tempat pemberian makan rutin untuk Orangutan.

Sejak tahun 2016 PT. Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) bekerjasama dengan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) telah melakukan program pra pelepasliaran Orangutan di Gugusan Pulau Salat yaitu di pulau Badak Besar dan pulau Badak Kecil, Kabupaten Pulang Pisau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Saat ini, jumlah Orangutan yang dikelola melalui program kemitraan ini tercatat sebanyak 93 individu, sedangkan yang sudah di lepas ke Taman Nasional total berjumlah 27 individu, 4 individu diantaranya berhasil dilepasliarkan dengan dimasa pandemi Covid-19 dengan menerapkan sejumlah protokol khusus Sementara.

Pulau Salat dengan luas lebih dari 2.000 hektar ini menampung sebanyak 40 individu di Pulau Badak Besar dan 10 individu di Pulau Badak Kecil. Sebanyak 10 individu di Pulau Badak Kecil merupakan orangutan unreleasable alias tidak dapat dilepasliarkan ke alam liar karena berbagai alasan, seperti sakit, usia yang sudah tua, maupun cacat fisik. Saat ini sebanyak 27 Orangutan sudah dilepasliarkan sejati ke habitat aslinya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Kantingan dan Hutan Lindung Bukit Batikap, Kabupaten Murung.

Pulau Salat merupakan lokasi yang aman bagi Orangutan untuk tempat rehabilitasi guna mematangkan keterampilannya dalam menyintas secara mandiri di hutan sebelum dilepasliarkan secara sejati ke habitat aslinya. Orangutan di pulau tersebut terus dipantau secara berkala oleh teknisi yang sangat terlatih, berpengalaman dan berdedikasi tinggi bagi satwa yang dilindungi itu dalam hukum nasional berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Menuju pulau Salat dibutuhkan waktu sekitar 15 menit berangkat dari dermaga di perkampungan Desa Pilang dengan menggunakan Speedboat. Saat ini Pulau Badak kecil khusus diperuntukan sebagai "suaka" bagi Orangutan yang tidak dapat dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya. Setiap hari teknisi melakukan absensi dan observasi untuk memantau perubahan dan prilaku setiap individu Orangutan dengan teknik Body Condition Scoring (BCS) untuk mengukur kondisi fisik agar dapat menentukan perlakuan khusus jika diperlukan. Lebih dari 6 ton perbulan dilakukan pemberian pakan yang terdiri dari buah-buahan dan sayuran yang selalu disupport dari kebun buah masyarakat melalui rogram konservasi Orangutan Pulau Salat yang juga dikonsumsi oleh konsumen lainnya melaui BUMDes.

PT. SSMS akan terus berkomitmen pada keseimbangan kelestarian lingkungan dan makhluk hidup dan terus bekerja sama sangat erat dengan Yayasan BOS untuk mendukung upaya pelestarian orang utan dan habitatnya. Terutama dalam pengelolaan pulau suaka dan pra-pelepasliaran sebagai bagian dari proses rehabilitasi Orangutan.

Foto dan Naskah: Koran SINDO/Yorri Farli

(bon)
Top