Geliat Pengamen Ondel-ondel Bertahan Hidup di Jakarta

  • Persiapan Ondel-ondel yang akan dibawa untuk mengamen.
  • Menjelang sore, Ipan (31) bersama kedua temannya Putra (14) dan Sanud (14) yang merupakan kelompok pengarak Ondel-ondel tampak keluar dari pemukiman padat di kawasan Kramat Pulo, Jakarta Pusat.
  • Kawasan itu memang lebih dikenal dengan sebutan kampung Ondel-ondel, Ipan yang merupakan anggota Sanggar Ondel-ondel Achmad Faiz terlihat menaikan Ondel-ondel tersebut ke atas Bajaj.
  • Sanud dan Putra yang sudah putus sekolah memilih ikut Ipan atau yang akrab di sapa Aa untuk mengamen Ondel-ondel karena menurut mereka pekerjaan ini halal selagi tidak berbuat kriminal.
  • Setiap hari Ondel-ondel tersebut selalu keluar untuk digunakan mengamen, mereka bertiga tampak bergantian mendorong gerobak.
  • Ipan dan kedua temannya mengamen Ondel-ondel dengan menyusuri memasuki kawasan pemukiman padat hingga komplek.
  • Sekali jalan mereka bisa mendapatkan uang hingga ratusan ribu.
  • Menjelang perayaan ulang tahun kota Jakarta yang ke-494, Aa berharap Pemprov mempertimbangkan kembali terkait aturan pelarangan pengunaan Ondel-ondel untuk mengamen.
  • Pasalnya, pengamen Ondel-ondel sedikit banyak mempunyai andil dalam melestarikan kebudayaan Betawi selain itu, mereka nantinya juga akan akan kebingungan mencari uang untuk sehari-hari.
  • Menjelang sore, Ipan (31) bersama kedua temannya Putra (14) dan Sanud (14) yang merupakan kelompok pengarak Ondel-ondel tampak keluar dari pemukiman padat di kawasan Kramat Pulo, Jakarta Pusat.

Menjelang sore, Ipan (31) bersama kedua temannya Putra (14) dan Sanud (14) yang merupakan kelompok pengarak Ondel-ondel tampak keluar dari pemukiman padat di kawasan Kramat Pulo, Jakarta Pusat.

Kawasan itu memang lebih dikenal dengan sebutan kampung Ondel-ondel, Ipan yang merupakan anggota Sanggar Ondel-ondel Achmad Faiz terlihat menaikan Ondel-ondel tersebut ke atas Bajaj.

Sanud dan Putra yang sudah putus sekolah memilih ikut Ipan atau yang akrab di sapa Aa untuk mengamen Ondel-ondel karena menurut mereka pekerjaan ini halal selagi tidak berbuat kriminal.

Setiap hari Ondel-ondel tersebut selalu keluar untuk digunakan mengamen, mereka bertiga tampak bergantian mendorong gerobak. “Hari ini kita mengamen di kawasan Kemanggisan” ucap Ipan yang dulunya pernah bekerja sebagai cleaning service.

Ipan dan kedua temannya mengamen Ondel-ondel dengan menyusuri memasuki kawasan pemukiman padat hingga komplek.

Sekali jalan mereka bisa mendapatkan uang hingga ratusan ribu. “Gak tentu sih, terkadang Rp250.000. Eh enggak, paling gede pernah Rp450.000. Paling kecil Rp200.000, dan itupun harus di bagi tiga dan membayar biaya sewa Ondel-ondel sebersa Rp100.000“ ucap Sanud.

Menjelang perayaan ulang tahun kota Jakarta yang ke-494, Aa berharap Pemprov mempertimbangkan kembali terkait aturan pelarangan pengunaan Ondel-ondel untuk mengamen.

Pasalnya, pengamen Ondel-ondel sedikit banyak mempunyai andil dalam melestarikan kebudayaan Betawi selain itu, mereka nantinya juga akan akan kebingungan mencari uang untuk sehari-hari.

Foto: MPI/Faisal Rahman

(sra)
Top