Masuk Nominasi UNWTO, Menparekfraf : Desa Wae Rebo Desa Kebangkitan Ekonomi Bangsa

  • Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno takjub dengan desa Wisata Wae Rebo, dijuluki surga di atas awan. Desa Wisata Wae Rebo berlokasi di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).
  • Desa ini juga masuk dalam Nominasi UNWTO sebagai desa terbaik dunia.
  • Sandi menuturkan, perlu perjuangan keras untuk mencapai desa wisata ini lantaran wisatawan harus mengikuti jalan setapak di lereng-lereng perbukitan sejauh lima kilometer. Namun, perjuangan tersebut terbayar ketika mereka tiba di lokasi.
  • Saat tiba, hal pertama yang akan menarik perhatian wisatawan adalah tujuh rumah adat Mbaru Niang yang berbentuk kerucut dan menjadi ciri khas desa wisata ini yang kini telah bertambah beberapa rumah adat lagi untuk tamu wisatawan.
  • Menurut situs indonesia.travel, Desa Wisata Wae Rebo mendapat penghargaan Top Award of Excellence dari UNESCO dalam UNESCO Asia Pacific Heritage Awards 2012.
  • Sandi menegaskan, kalau pihaknya akan melakukan pendampingan terhadap Desa Wisata Wae Rebo untuk bisa menang dalam lomba bertaraf internasional ini. Pasalnya desa ini akan berkompetisi dengan berbagai desa wisata dari negara lain, di antaranya Murcia (Cehegin) di Spanyol, serta Alonissos dan Soufli di Yunani.
  • Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno takjub dengan desa Wisata Wae Rebo, dijuluki surga di atas awan. Desa Wisata Wae Rebo berlokasi di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

FLORES – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno takjub dengan desa Wisata Wae Rebo, dijuluki surga di atas awan. Desa Wisata Wae Rebo berlokasi di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Desa ini juga masuk dalam Nominasi UNWTO sebagai desa terbaik dunia.

Sandi menuturkan, perlu perjuangan keras untuk mencapai desa wisata ini lantaran wisatawan harus mengikuti jalan setapak di lereng-lereng perbukitan sejauh lima kilometer. Namun, perjuangan tersebut terbayar ketika mereka tiba di lokasi. Saat tiba, hal pertama yang akan menarik perhatian wisatawan adalah tujuh rumah adat Mbaru Niang yang berbentuk kerucut dan menjadi ciri khas desa wisata ini yang kini telah bertambah beberapa rumah adat lagi untuk tamu wisatawan.

Ada acara adat dilaksanakan setiap tahunnya, salah satunya upacara persembahan untuk roh yang mendiami tempat Wae Rebo. Upacara tersebut dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juni dan Oktober. Menurut situs indonesia.travel, Desa Wisata Wae Rebo mendapat penghargaan Top Award of Excellence dari UNESCO dalam UNESCO Asia Pacific Heritage Awards 2012. “Memang untuk mencapai desa ini memerlukan perjuangan, kita harus tracking sejauh 5 Km tapi semuanya terbayar karena keindahannya,” kata Sandi.

Oleh karena itu, Sandi menegaskan, kalau pihaknya akan melakukan pendampingan terhadap Desa Wisata Wae Rebo untuk bisa menang dalam lomba bertaraf internasional ini. Pasalnya desa ini akan berkompetisi dengan berbagai desa wisata dari negara lain, di antaranya Murcia (Cehegin) di Spanyol, serta Alonissos dan Soufli di Yunani. Apabila mengacu pada situs UNWTO, pemenang akan diumumkan pada Sidang Majelis Umum UNWTO 2021 (UNWTO General Assembly 2021) yang ke-24 di Maroko sekitar akhir November atau awal Desember.

Untuk itu, sandi akan membuat surat keputusan kepada ketua dewan Juri Desa Wisata Prof. Dr. Azril Azahari untuk melakukan pendampingan secara man to man marking dimana akan dilaporkan dimana kekurangan dan apa yang harus diangkat sehingga desa wisata ini bisa menjadi desa kebanggaan Indonesia. “Saya akan minta Prof Azeil langsung yang mendampingi dan dilihat mana yang perlu di highlight sehingga desa ini bisa menjadi yang terbaik tidak hanya di Indonesia tapi di dunia,” tukasnya.

(sra)
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top